Setetes Hujan


Setiap orang punya jalan hidupnya masing-masing. Seperti setetes air hujan. Mulanya ia hanya uap air tak terlihat, lalu terkondensasi menjadi titik-titik embun, berkumpul membentuk awan, diterbangkan angin, perlahan turun sebagai tetes hujan. Pernahkah kau berpikir tentang perjalanan setetes air hujan?

Ada tetes yang mampir di genteng-genteng rumah. Ada tetes yang singgah di dedaunan. Ada tetes yang meluncur ke jalan. Ada tetes yang langsung mengikuti aliran air selokan. Ada tetes yang tergenang dalam ceruk kaleng bekas. Ada pula tetes yang langsung hilang begitu menyentuh bumi, terserap akar pepohonan. Setiap tetes menempuh jalan yang berbeda, meski Tuhan menghendaki satu tujuan untuk mereka. Hujan diturunkan ke bumi untuk membawa kabar gembira, untuk menumbuhkan tanam-tanaman, untuk kehidupan hewan dan manusia, juga semua makhluk Tuhan lainnya.

Perjalanan setetes air hujan itu seperti kehidupan. Setiap orang punya jalan hidup dan ceritanya masing-masing. Bahkan kembar identik pun punya jalan hidup yang berbeda. Begitupula dengan aku, kamu, dia, juga mereka. Kita selalu punya cerita yang berbeda, tak pernah sama.

Kadang aku merasa bosan dengan hidupku. Kenapa begini-begini saja? Melihatmu, dia, mereka dengan hidup kalian masing-masing. Mungkin kau kini sudah melanglang buana, lulus kuliah, punya pekerjaan, bahkan banyak prestasi yang kau torehkan. Mungkin dia semakin sibuk dengan urusan bisnisnya, juga dengan amanah baru membina rumah tangga. Mungkin mereka juga sibuk dengan urusannya, ada yang belajar ke luar negeri, ada yang merantau ke luar Jawa, ada yang kembali ke kampung halamannya, ada yang berjuang mati-matian di kantor barunya, ada yang masih bingung mencari pekerjaan, ada pula yang masih pontang-panting memperjuangkan skripsinya.

Dan pertanyaanku selalu berujung pada satu jawaban. Aku, masih di sini berusaha dan berbahagia. Itu jawaban paling logis dan paling bijaksana yang tepat untukku saat ini. Tak ada kata-kata motivasi yang lebih tepat dari itu. Tak ada kata-kata penghibur yang lebih menggembirakan dari itu. Dan syukurku atas semua karunia yang Allah berikan untukku. Dia masih (selalu) sayang padamu, Maka Dia izinkan kau bernapas hingga hari ini, detik ini. Agar kau torehkan prestasimu, dalam lembaran-lembaran catatan amal yang dibawa kedua malaikat di samping kanan dan kirimu.

Maka tak ada alasan untuk bersedih. Maka habislah kata-kata untuk mengeluh. Setiap manusia punya jalan hidupnya masing-masing. Kau percaya itu kan?

“Katakanlah: Sesungguhnya salatku, ibadahku, hidupku, dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam.” (Q.S. Al An’am: 162)

“Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku.” (Q.S. Adz Dzariyat: 56)

Cukuplah kiranya kedua ayat itu memberikan pelajaran bagiku, bagimu, bagi kita. Bahwasanya tujuan penciptaan kita sama, hanya jalan hidup kita lah yang berbeda. Maka setiap helaan napas kita pun hendaknya sama, untuk Allah saja.

Tak peduli sampai dimana kau kini berjalan

dan masih berapa jauh jalan yang harus kau tempuh.

Allah tujuan kita…

Iklan

Satu pemikiran pada “Setetes Hujan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s