Kisah Ulat Dan Daun


Musim hujan telah tiba pepohonan menghijau kembali, rimbun dan indah. Beberapa ekor ulat menyeruak di antara daun-daun hijau itu yang bergoyang-goyang diterpa angin. ” Apa kabar daun yang cantik”!! sapanya. Tersentak daun hijau menoleh ke arah suara yang datang. “Oo, kamu ulat… badanmu tampak kecil dan kurus, mengapa?” tanya daun hijau. “Aku hampir tidak mendapatkan dedaunan untuk makananku, bisakah engkaumembantuku sobat dengan memberikan sebagian daunmu untuk ku makan?” kata ulat kecil lemah. “Tentu..tentu..mendekatlah kemari, ambilah sebagian daunku untuk kau makan,pilihlah yang kalian suka untuk kau makan”, Daun hijau berpikir, Jika aku memberikan sedikit dari tubuhku ini untuk makanan si ulat, aku akan tetap hijau, hanya saja aku akan kelihatan berlobang-lobang. tapi tak apalah.

Perlahan-lahan ulat menggerakkan tubuhnya menuju daun hijau. Setelah makan dengan kenyang, ulat berterima kasih kepada daun hijau yang telah merelakan bagian tubuhnya menjadi makanan si ulat. Ketika ulat mengucapkan terima kasih kepada sahabatnya yang mulia itu, ada rasa puas didalam diri daun hijau. Sekalipun tubuhnya kini berlobang disana sini namun ia bahagia bisa berbuat sesuatu untuk mahluk kecil yang lapar.

Tidak lama berselang ulat-ulat bermetamorfosis menjadi kupu-kupu yang cantik, mereka tidak pernah lupa kepada dedaunan yang menyediakan sebagian tubuhnya memberikan mereka makanan. “Hai daun yang cantik” sapa kupu-kupu, ” ingatkah kau kepada kami?” “siapakah engkau wahai kupu-kupu yang cantik, tubuhku berlubang-lubang bagaimana bisa engkau katakan aku daun yang cantik?” jawab sang daun tidak emngenalinya. “bagi kami engkau tetap daun yang cantik…dulu kami adalah ulat yang engkau pernah beri makan dan tempat untuk berdiri, kini kami telah berubah menjadi kupu-kupu yang akan menghiburmu dengan menari-nari dan menyanyi sepanjang hari, berkat kebaikan engkau daun yang cantik” jawab kupu-kupu riang gembira. “terima kasih kupu-kupu yang cantik….walau aku tidak pernah mengharapkan balasan dari perbuatanku, tetapi kehadiranmu sunggu membahagiakan hatiku” jawab daun tersenyum bahagia.

Tak lama kemudian musim panaspun datang… daun-daun hijau berubah menjadi kering dan berubah warna. Akhirnya daun-daun jatuh berguguran, disapu orang dan dibakar.

HIKMAH
Hikmah kisah di atas adalah apa sebenarnya yang terlalu berarti di dalam hidup kita sehingga kita seringkali enggan menolong dengan berkorban sedikit saja bagi sesama? apakah kita bisa berbahagia sendirian? itu tidaklah mungkin, kebahagian akan datang kalau saja kita telah membahagiakan orang lain, terutama orang-orang yang kita cintai. Dan apakah keuntungannya apabila kita bakhil (pelit) dan perhitungan pada sesama? coba renungkan apakah kita akan bertambah kaya karenanya… lagipula pada akhirnya semua yang ada di muka bumi akan binasa, tidak ada yang kekal dan abadi.Daun hijau yang baik mewakili orang-orang yang masih mempunyai “hati” bagi sesamanya. Yang tidak menutup mata ketika melihat sesamanya dalam kesulitan. Yang tidak membelakangi dan seolah-olah tidak mendengar ketika sesamanya berteriak minta tolong. Ia rela melakukan sesuatu untuk kepentingan orang lain dan sejenak mengabaikan kepentingan diri sendiri. merelakan kesenangan dan kepentingan diri sendiri bagi sesama memang tidak mudah, tetapi indah. Seperti ibu kita terutama dan bapak kita misalnya yang telah menunjukkan kasih sayangnya dengan memberikan segalanya kepada kita sejak kita masih dalam rahimnya, tanpa pernah mengharap kembali jasa-jasanya. Kini sudah sepatutnya kita membalas membahagiakannya dengan lebih memperhatikan kebutuhannya dan banyak mendo’akannya, serta senantiasa senyum jika berhadapan dengan mereka.Ketahuilah ketika berkorban dengan ikhlas tanpa mengharap pernah kembali, diri kita sendiri menjadi seperti daun yang berlobang namun itu sebenarnya tidak mempengaruhi hidup kita. Kita akan tetap hijau dan indah, di mata Sang Pencipta.

Allah SWT memberikan rahmatnya dengan memberikan keseimbangan dan keselarasan, yaitu ada yang kuat dan ada yang lemah serta ada yang kaya dan ada yang (lebih banyak) miskin, tentu ada hikmahnya dibalik penciptaannya itu semua.
Bagi “daun hijau” , berkorban merupakan satu hal yang mengesankan dan terasa indah serta memuaskan. Dia bahagia melihat sesamanya bisa tersenyum karena pengorbanan yang ia lakukan. Ia juga melakukannya karena menyadari bahwa ia tidak akan selamanya tinggal sebagai daun hijau. Suatu hari ia akan kering dan jatuh. Demikianlah hidup kita, hidup ini hanya sementara kemudian kita akan mati. itu sebabnya isilah hidup ini dengan perbuatan-perbuatan yang mulia, yaitu ibadah, terutama ibadah hati ikhlas, sabar, syukur, cinta dan rendah hati.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s